Sunday, October 11, 2015

Jelajah Alam Lombok Part 1 Gili Trawangan

Pantai Gili Trawangan

Sampailah Penjelajah Alam di Gili Trawangan. Sekali lagi menegaskan, kalau Gili Trawangan itu bagian dari Pulau Lombok, hanya saja untuk singgah disini harus menyebrang laut dari Pelabuhan Bangsal. Lama penyebrangannya sekitar 30 - 45 menit menggunakan Kapal untuk Public Transport, dan 10 menit menggunakan fast boat. 
Seperti di ulasan sebelumnya Penjelajah Alam memilih Public Boat untuk penyebrangan kali ini. Alasannya murah dan efisien untuk backpacker. Public Boat sendiri baru akan berlayar kalau jumlah penumpang sudah 40 orang. 
Kembali ke Gili Trawangan, deskripsi mengenai pulau ini saat pertama kali menginjakkan kaki adalah pantai nya bersih dan biru, pasirnya putih namun tidak padat, di tempat pelabuhan untuk Public Boat nya agak sedikit kumuh dan kotor, tapi ke cover dengan keindahan lautnya. 
Saran untuk para Penjelajah, kalau kalian berkesempatan mengunjungi Gili Trawangan, persiapkan semuanya dengan matang sebelum pergi. Sedikit cerita dan curhat, Penjelajah Alam kecewa dengan pelayanan salah satu Cottage disana.
Informasi penting untuk Penjelajah yang lain, di Gili Trawangan sinyal Handphone sangatlah sulit. yang FIX kuat bertahan hanya Simpati dan Telkomsel. Saat itu, kami sudah rencanakan untuk menginap di Gili Inlander. Kami sudah Booking kira-kira dari 4 bulan sebelum keberangkatan dan membayar DP, ini informasi kontak Pak Candra Gili Inlander 081907844740. 
Gili Inlander Cottage

Gili Inlander salah satu cottage baru di Gili Trawangan, untuk unitnya sendiri baru tersedia 3 unit kamar. Bentuk cottage nya seperti rumah Suku Sasak, beratapkan daun kelapa kering, dinding terbuat dari kayu, dengan fasilitas penjemputan di pelabuhan, sarapan pagi, AC dan tentunya free rental sepeda. Informasi ini tentunya Penjelajah Alam dapat dari searching di Mbah Google, serta dari salah satu booking online ternama di Indonesia. Untuk letaknya kurang strategis, jauh dari keramaian, jauh dari pesisir pantai, dan tentunya jauh dari saat Penjelajah Alam Turun dari Public Boat.
Saat sampai di Gili Trawangan, tentunya Penjelajah Alam langsung menghubungi Pak Candra, menginformasikan kalau kami sudah berasa di Gili Trawangan. Pak Candra sendiri menjanjikan untuk penjemputan di pelabuhan Gili Trawangan. Penjelajah Alam menunggu kira-kira 15 menit, namun tidak ada yang menjemput, padahal sudah diberitahu ciri-ciri salah satu tim Penjelajah Alam. Akhirnya kami berusaha untuk menghubungi kembali Pak Candra, jawabannya anak buahnya sedang dalam perjalanan. Dengan sabar kami kembali menunggu kedatangan anak buah Pak Candra. Dan akhirnya kami pun mulai resah karena sudah lebih dari 30 menit menunggu tapi sang penjemput belum datang juga, apalagi kami kesulitan menghubungi Pak Candra karena pulsa teleponnya tidak mencukupi.
Disaat gusar seperti itu, datanglah dewa penyelamat kami. Mas Awing namanya. Pada awalnya, kami sepakat untuk tidak berkomunikasi dengan siapa saja yang kami tidak kenal disana. Sempat risih dengan orang-orang pelabuhan yang menawarkan tempat penginapan, dan tentunya kami tidak menggubrisnya. Kembali ke Mas Awing, ia bekerja di salah satu tempat di Gili Trawangan yang menyediakan penyewaan alat snorkling serta paket snorkling. Sore itu, ia mungkin sedang nongkrong di pelabuhan, dan kami bersyukur bisa bertemu orang seperti Mas Awing di tempat asing yang belum pernah kami kunjungi.
Mas Awing sempat menanyakan dimana kami akan menginap, dan siapa yang menjemput. Mungkin dia kaget dengan jawaban kami yang tentunya ga masuk diakal. 30 menit menunggu jemputan yang menurutnya sangat nggak masuk diakal, apalagi luas pulau yang kecil. Saat kami menanyakan nama cottage Gili Inlander, hampir semua orang tidak pernah mendengarnya.
Kami mulai was-was dan berusaha menghubungi nomor Pak Surya tapi sinyal sangat sulit disini. sampai akhirnya Mas Awing memberikan solusi dengan memanggil cidomo (kereta kuda) yang tentunya si abang cidomo mengaku mengetahui Gili Inlander. setelah berpamitan, Kami langsung menaiki cidomo, tarif dari cidomo sendiri Rp. 100.000,- sekali jalan dengan trayek yang dekat sekalipun. Cukup menyesakkan dada ya tarifnya.
Perjalanan ke Gili Inlander kurang lebih 10 menit dengan menggunakan cidomo. Dari situ kami mengira-ngira apabila harus jalan kaki dari cottage ke dermaga tentunya sangat jauh. Jalan yang dilalui tidak lah mulus, kebanyakan berpasir putih dan tentunya berdebu sekali apabila dilewati dengan cidomo.
Singkat cerita sampailah kami di Gili Inlander. Cottage kecil yang sepertinya baru jadi, dan hanya tersedia 5 unit. Kami disambut dengan Pak Surya yang memohon maaf dengan missed penjemputan tadi. Dia mengaku sudah menyuruh anak buahnya jemput 2x namun tidak bertemu dengan kami.

Monday, September 21, 2015

Jelajah Alam Lombok Part 1

Siapa yang tidak mengenal Gili Trawangan. Pulau yang berada di utara Pulau Lombok ini menyimpan sejuta pesona. Kali ini Penjelajah Alam berkesempatan untuk mengunjungi Gili Trawangan. 
Penjelajah Alam memulai perjalanan di Kalibata - Jakarta Selatan pukul 06.00 WIB dengan memanfaatkan jasa Damri. Transportasi publik yang satu ini  nyaman, dengan fasilitas penyejuk udara, tempat penyimpanan koper yang luas, tempat untuk charger telepon genggam serta tempat duduk yang memadai untuk penumpang. Sangat dianjurkan untuk mencoba transportasi ini apabila berencana berpergian ala ala backpacker.
Pukul 08.00 WIB, Penjelajah Alam sampai di Bandara Soekarno Hatta. Kami langsung mencari sarapan karena kebetulan belum sempat sarapan tadi. Kami sepakat untuk sarapan di AW, salah satu restoran fastfood ternama di Jakarta. 
Kira-kira pukul 08.00 WIB, kami check in, kebetulan kali ini kami menggunakan jasa Batik Air. offer all pelayanan maskapai ini bagus dan rekomended banget. Fasilitas yang ditawarkan hampir sama dengan maskapai lainnya, nilai plus nya dengan budged minim kami mendapatkan makan siang saat penerbangan.
Batik Air Jakarta (CGK) - Lombok Praya (LOP)
Kurang lebih 1jam lebih 55 menit kami menikmati terbang bersama Batik Air, dan akhirnya landing dengan smooth di Bandara Internasional Lombok (LOP) - Praya. Terima kasih kepada Kapten Wiweka, penerbangannya berjalan sangat mulus :) 
bisa dibilang ini untuk pertama kalinya Penjelajah Alam menginjakkan kaki di Bandara Internasional Lombok (LOP) Praya. Sepintas sama dengan bandara lainnya. yang berbeda mungkin banyaknya calo yang menawarkan paket perjalanan Lombok ataupun jasa supir. Agak kurang nyaman sebenarnya, tapi setidaknya ini memudahkan pelancong yang berniat berwisata di Lombok.
Singkat cerita, kami membeli karcis Damri ke Senggigi. Loket Damri terletak setelah pintu keluar dari Bandara. Untuk Damrinya sendiri berada di parkiran Bandara, untuk menghindari terjadinya salah jurusan, saat itu Penjelajah Alam menanyakan jurusan dengan kernet Damrinya langsung.
Damri di lombok berukuran lebih kecil dari Damri di Jakarta. Secara fasilitas hampir sama, namun seat penumpang tentunya lebih sedikit. 
Sekitaran 45 menit kemudian kami singgah di Senggigi. Cuaca sangat panas saat itu, namun perjalanan harus dilanjutkan menggunakan ojek. Sekitaran 45menit kami berjibaku dengan panasnya jalanan, melewati hutan pusuk yang terkenal dengan fauna nya yaitu monyet. Sampailah kami di Pelabuhan Bangsal.
Tukang ojek yang kami sewa jasanya kebetulan baik, namanya Bapak Anto bisa telepon kesini 0819-0777-4185. Pak Anto ini mengantarkan kami sampai ke tempat pembelian tiket boat penyebrangan ke Gili Trawangan.
Demi mengejar waktu, tanpa pikir panjang kami langsung membeli tiket Public Boat. Untuk diketahui, Public Boat ini sangat murah, sangat terjangkau untuk kantong Backpacker. Kapal akan diberangkatkan jika jumlah penumpang sudah mencukupi 40 orang. Perjalanan selanjutnya akan ditempuh dalam waktu 45menit.
Public Boat, kapal ini terbuat dari kayu, terbuka dan agak lama jalannya, sesuai dengan budged yang dikeluarkan. Saat itu angin sangat kencang, sehingga kondisi laut saat itu berombak tinggi. Kapal sangat oleng, yang terpikirkan saat itu, bagaimana bila kapal ini terbalik, sedangkan kondisi alat pengaman seperti pelampung saja tidak tersedia.
Kondisi Laut Menuju Gili Trawangan
Penjelajah Alam akhirnya menginjakkan kaki nya di Gili Trawangan setelah hampir 30menit terombang ambing di tengah laut atau lebih tepatnya di selat antara Gili Air dan Gili Meno.